Analogi Kisah Burung dan Manusia

Cerita dibawah ini saya baca dari beberapa kisah sufi (orang bijak yang mencari kebenaran dalam kehidupannya), mungkin temen2 punya persepsi yang berbeda setelah membaca cerita ini, tapi bagi saya cerita ini memiliki makna yang dalam bahwa “logika tidak sama dengan perasaan” simak cerita dibawah ini.

Suatu ketika, ada manusia menangkap burung. Burung berkata kepadanya,”Aku tak berguna untuk kamu sebagai tawanan. Lepaskan saja aku. Nanti aku beri kamu tiga buah nasehat.” Burung berjanji akan memberikan nasehat pertama ketika berada dalam genggaman manusia itu. Yang kedua akan diberikannya kalau dia sudah berada di cabang pohon. Ketiga ketika dia sudah mencapai puncak bukit manusia itu setuju, lalu dia meminta nasehat pertama. “Kalau kamu kehilangan sesuatu, meskipun kamu menghargainya seperti hidupmu sendiri, jangan menyesal,”kata burung. manusia itu pun melepaskannya dan burung itu segera melompat ke dahan. “Jangan percaya kepada segala yang bertentangan dengan akal, apabila tidak ada bukti,”disampaikannya nasehat yang kedua Kemudian burung terbang ke puncak gunung. Dari sana dia berkata, “Wahai manusia malang! Dalam diriku terdapat dua permata besar, kalau saja tadi kamu membunuhku, kamu akan memperolehnya.” Orang itu sangat menyesal memikirkan kehilangannya. Namun katanya, “Setidaknya, katakan padaku nasehat yang ketiga itu!” “Alangkah tololnya kamu meminta nasehat ketiga sedangkan yang kedua pun belum kamu renungkan sama sekali. Sudah kukatakan padamu agar jangan kecewa kalau kehilangan dan jangan mempercayai hal yang bertentangan dengan akal. Kini kamu malah melakukan keduanya. Kau percaya pada hal yang tak masuk akal dan menyesali kehilanganmu. Aku pun tidak cukup besar untuk menyimpan dua permata besar! Kamu tolol! Oleh karenanya, kamu harus tetap berada dalam keterbatasan yang disediakan bagi manusia,”jawab burung sambil pergi meninggalkan manusia itu dengan penuh perasaan kalah.

Nah silahkan berpersepsi sendiri terhadap cerita diatas 🙂

Advertisements