e-publishing, Ancaman atau Jalur Baru untuk Industri Percetakan dan Solusi Kerusakan Lingkungan

e-publishing, sebuah pengantar

Dewasa ini dunia Teknologi Informasi semakin berkembang dan semakin mobile. Salah satu dampak industri yang terkena imbasnya adalah industri percetakan yang mulai merambah pada percetakan elektronik (e-publishing). Pada awal perkembangnnya, e-publishing dianggap bencana oleh beberapa industri percetakan yang ada di dunia, mereka mengganggap bahwa dengan adanya e-publishing ini maka pendapatan mereka akan semakin berkurang. Anggapan tersebut terlihat wajar pada awalnya, disebabkan semakin berkembangnya teknologi internet dan pembajakan hak cipta di internet yang memang belum memiliki aturan hukum yang jelas secara luas (hukum yang ada adalah hukum lokal atau untuk negara dan wilayah tertentu) ketika itu. Namun, dalam perkembangannya e-publishing ini malah memberikan dampak yang luas dan memberikan prospek keuntungan untuk industri percetakan di masa depan.

Salah satu contoh Industri percetakan yang menerapkan e-publishing pertama kali adalah industri percetakan yang dimiliki oleh Stephen King. Bagi orang awam mungkin terlihat aneh, karena seperti yang kita tahu bahwa e-publishing dilakukan melalui internet yang dapat diakses melalui Notebook, Handphone, PDA, dan gadget lainnya. Dan sudah menjadi rahasia umum pula bahwa kita bisa mendapatkan informasi apa saja secara gratis melalui internet. Informasi yang diberikan dapat disajikan dalam berbagai bentuk, file musik, e-book, video, dan lain sebagainya. Namun, setelah diterapkan oleh penerbit yang dimiliki oleh Stephen King, perusahaan penerbit tersebut malah semakin maju dan berkembang.

Bagaimana e-publishing bisa memberikan keuntungan untuk penerbit dan pembaca?

Ada beberapa keuntungan yang dapat dicapai dengan menggunakan e-publishing sebagai sarana untuk melakukan publikasi, yaitu :

  1. Menghilangkan biaya produksi. Karena tidak dibutuhkan pencetakan sehingga biaya untuk memproduksi buku hampir bisa dipastikan tidak ada sama sekali,
  2. Menghilangkan biaya transportasi. Melalui internet yang dapat diakses di mana saja dan kapan saja, biaya transportasi total untuk memindahkan dari penerbit ke tangan konsumen jauh lebih murah daripada pengiriman buku versi cetak
  3. Menghilangkan biaya gudang. Hanya dengan menyimpan master book-nya dalam harddisk, maka tidak diperlukan gudang untuk menyimpan hasil cetakan,
  4. Meningkatkan royalti penulis. Dengan perlindungan terhadap pembajakan oleh teknologi dan undang-undang pemerintah, maka penulis (baik yang memberikan karya tulisnya pada penerbit maupun menerbitkan bukunya secara independen) dapat menerima royalti yang cukup besar dibandingkan jika menerbitkan karya tulisnya secara konvensional, hal ini didasarkan pada pemangkasan biaya yang cukup besar dari sisi produksi, transportasi, gudang, dll,
  5. Meningkatkan waktu launching produk. Sesuai dengan kemampuannya internet dapat diakses di mana saja dan kapan saja, maka produk e-publishing juga dapat meningkatkan kecepatan waktu launching suatu produk terbaru, dan
  6. Memberikan sarana promosi yang luas. internet yang telah luas jaringannya dapat membantu memberikan promosi dengan biaya rendah tetapi memiliki jangkauan pasar yang luas (di seluruh dunia) sehingga promosi menggunakan internet akan menjadi trend dan sarana wajib bagi para marketing untuk memasarkan produknya.

Jika ditinjau dari sisi konsumen, e-publishing sebenarnya dapat memberikan keragaman bentuk layanan informasi, Dengan demikian konsumen dapat memilih layanan mana yang menurut mereka lebih baik dan cocok dengan karakteristik mereka masing-masing.

Dari sisi keamanan untuk penerbit, telah dikembangkan berbagai macam teknologi bahasa web guna melindungi hak cipta penerbitan. Selain itu undang-undang pemerintah juga mulai terbentuk guna melindungi hak cipta penerbitan yang dilakukan secara online melalui internet sehingga para penulis tidak perlu mengkhawatirkan tingkat pembajakan yang tinggi karena mereka percaya bahwa mereka “dilindungi” oleh teknologi dan peraturan pemerintah yang mulai memperhatikan aspek pembajakan dunia maya.

e-book, e-newspaper, e-magazine di Handphone dan PDA

Saat ini sudah semakin banyak e-publishing yang beredar di internet, jenis dan bentuknyapun beraneka ragam, ada yang berbayar dan ada pula yang “gratis”. Pengguna layanan telekomunikasi juga semakin dimanjakan dengan layanan penyedia jasa telekomunikasi seluler yang selalu berlomba-lomba untuk memberikan pelayanan yang maksimal untuk pelanggan setianya, akses internet murah adalah contohnya. e-book, e-newspaper, dan e-magazine adalah beberapa contoh layanan informasi yang dulunya adalah bentuk informasi yang menggunakan proses percetakan tradisional dan sekarang mulai mengalami “revolusi” dengan merambah layanan elektronik sebagai media distribusinya.

E-book, siapa yang tidak suka membaca buku? Sumber ilmu pengetahuan utama ini sejak dulu dibuat untuk memuaskan dahaga para pencari informasi. Sekarang buku-buku tersebut lebih mudah didapatkan melalui Handphone dan atau PDA (Personal Data Assistant) masyarakat dunia saat ini dapat membaca buku dimana saja, kapan saja, lebih dari satu buku hanya dalam satu alat.

E-newspaper, pernahkah Anda membayangkan terjebak dalam badai, salju atau bencana alam lainnya yang membuat Anda harus berlindung di dalam rumah sementara Anda tetap harus membaca koran karena ada berita penting yang harus dibaca? Saat ini tidak perlu bingung jika Anda membutuhkan koran edisi terbaru, sudah mulai banyak koran-koran baik lokal maupun mancanegara yang memilih jalur e-publishing sebagai jalur kedua mereka untuk melakukan distribusi. Dengan membayar lebih murah tiap bulannya, Anda dapat membaca koran terbaru langsung melalui Handphone atau PDA Anda.

E-magazine, lifestyle terbaru yang disukai karena praktis dan mobile. Kapan saja dan di mana saja, Anda dapat dengan mudah mendapatkan majalah edisi terbaru dalam genggaman Anda. Dan dengan bantuan internet, majalah yang disediakan secara elektronik ternyata mampu memberikan nilai lebih dari sisi tampilan dan interaksi dengan pembacanya. Menggunakan teknologi flash video dalam e-magazine membuat para pembaca serasa membaca secara “visual” pada artikel yang ada di dalam majalah tersebut.

Pengaruhnya terhadap lingkungan

Menurut hasil penelitian yang dilakukan Indonesian Pulp and Paper Association dalam kurun waktu 2000-2004, lebih dari 90% konsumsi kertas yang ada di Indonesia, baik kertas yang digunakan untuk keperluan menulis maupun untuk keperluan mencetak disediakan secara domestik dengan menggunakan sumber daya hutan yang ada di Indonesia (Sumber:Indonesian Pulp & Paper Association Directory 2005).

Jika dilihat dampak penggunaan kertas yang semakin meningkat, yaitu sebesar 7% per tahun untuk negara berkembang (berdasarkan riset yang dilakukan oleh World Research Institute), maka dapat dilihat biaya lingkungan yang akan meningkat pula sebagai dampak yang tidak bisa dipisahkan. Biaya lingkungan tersebut meliputi : rusaknya hutan, pemanasan global, polusi, sampah, banjir, dan lainnya.

Selain itu, dampak penggunaan kertas yang terus meningkat juga berpengaruh dalam kehidupan ekonomi di Indonesia. Kasus ilegal logging yang sering terjadi di Indonesia secara langsung dapat dihubungkan dengan meningkatnya permintaan kebutuhan akan bahan baku kertas, yaitu pohon. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Rainforest Information Center, dibutuhkan pohon sebanyak 10 sampai 17 yang harus ditebang untuk menghasilkan 1 ton kertas yang digunakan untuk mencetak koran, yang setara dengan 8 lembar ukuran kertas A4 per halamannya. Satu ton kertas tersebut dapat menghasilkan sekitar 7000 eksemplar koran.

Melihat kondisi tersebut, maka dibutuhkan suatu tindakan nyata untuk mengurangi konsumsi kertas di Indonesia, sehingga di kemudian hari kepedulian generasi muda akan pentingnya hutan semakin meningkat. Salah satu tindakan yang bisa dilakukan adalah penggunaan teknologi internet dan e-publishing sebagai pengganti penulisan secara tradisional. Penggunaan teknologi internet dan e-publishing diharapkan mampu mengatasi permasalahan dan mengajarkan generasi muda agar bisa lebih menghargai hutan.

Gambar usaha penurunan penggunaan kertas untuk mengatasi pemanasan global

Keterangan gambar :

Dengan semakin meningkatnya penggunaan teknologi e-publishing, maka diharapkan penggunaan kertas yang berlebihan dapat dikurangi, dampaknya adalah semakin berkurangnya penebangan hutan yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan produksi kertas, sehingga dampak jangka panjangnya diharapkan semakin berkurangnya pemanasan global yang terjadi saat ini karena fungsi hutan sebagai paru-paru dunia akan kembali ke fungsi asalnya.

Semoga masyarakat semakin sadar akan pentingnya menghargai sumber daya alam dan mulai beralih ke Teknologi Informasi dalam kehidupannya untuk membantu memberikan solusi terhadap kerusakan lingkungan yang terjadi secara global saat ini.

Advertisements

23 Responses to “e-publishing, Ancaman atau Jalur Baru untuk Industri Percetakan dan Solusi Kerusakan Lingkungan”

  1. wennyaulia Says:

    setuju
    tp risikonya jadi banyak bajak membajak
    saya udah lama ndak beli buku kuliah, karena buku kuliah gampang ditemukan dlm di internet secara gratis 😛

    btw, nice post 🙂

    @wennyaulia
    Semua tindakan kan pasti ada trade offnya? 🙂 kalau aku memang suka koleksi buku, jadi walaupun punya e-book aku juga punya koleksi buku… cuma untuk paperless, konsekuensinya bukuku harus aku pinjemin biar orang lain nggak usah beli buku yang baru 🙂

    Thx ya wenny 🙂

  2. mikekono Says:

    bener…..
    teknologi informasi semakin canggih
    dan patut dikembngkan di
    semua sektor kehidupan 🙂

    @mikekono
    Tetapi harus tetap ramah lingkungan kan pak? 🙂

  3. bu erte Says:

    wah, bener tu mas.
    aku pikir ini adalah salah satu solusi yang bisa membantu menyelamatkan bumi kita.
    untung juga bagi kita krn gk perlu lagi berlangganan koran/majalah atau membeli buku yang harganya makin lama makin mahal.toh ujung2nya juga dibuang dan menjadi sampah.juga gk perlu repot bawa buku kemana-mana. kita nyaman,bumi aman.

    @bu erte
    Tergantung orangnya juga kali ya? sayang ma buku ato nggak… tapi secara umum memang kita harus berusaha menghemat penggunaan kertas untuk menyelamatkan hutan kita 🙂

  4. agunk agriza Says:

    mudah2an aja orang2 indonesia bisa lebih sadarrrr lagi ya mas 😉

    @agunk agriza
    Amin…

  5. edratna Says:

    Masa itu akan datang, dan tak bisa di tahan. Mungkin adalah bagaimana agar para industriawan memikirkan peluang yang ada? Karena nantinya akan paperless, ini suatu ketika pasti datang. Tapi juga masih banyak orang yang suka baca buku, daripada yang elektronik, karena tetap ada rasa yang berbeda. Tinggal bagaimana pelaku industri mencari peluang…karena selalu ada opportunity

    @edratna
    Iya bu, jaman semakin maju dan sepertinya mulai menuju ke era teknologi informasi digital neh 🙂

  6. boechan Says:

    sebelumnya salam kenal bu edratna, saya sangat setuju dengan anda mengenai “ada rasa yang antara membaca buku (fisik) dengan membaca e-book”, saya mengalami sendiri hal itu, berbagai kemudahan yang dimiliki oleh buku antara lain adalah kita bisa membacanya dimana saja, dan kapan saja, contoh : kebiasaan saya sehari2 klo udah baca buku entah tentang kuliah ataupun novel saya paling betah baca di kamar mandi terutama klo sudah suntuk mikirkan tugas menumpuk:D(jangan ditiru), itu adalah salah satu kelebihan yang dipunya buku menurut saya, masih banyak lagi sebetulnya……

    tapi teknologi terus berkembang pasti nanti datang saatnya dimana semua kelebihan buku dapat diterapkan dalam e-book, kapankah saat itu tiba kita tidak tahu, mungkin juga saat itu tiba ketika semua hutan di dunia sudah habis[i wish not]….

    @boechan
    Saat ini e-publishing memang masih menjadi jalur sekunder bagi kebanyakan penerbit, jujur aku juga suka edisi cetak… rasanya bangga punya buku cetakan edisi pertama, atau buku yang ditandatangani langsung oleh penulisnya… tapi kalau kita bisa bersikap bijak… buku yang kita beli bolehlah dipinjamkan ke orang lain supaya tidak terlalu banyak beli buku edisi cetak (beli versi e-booknya saja) 🙂

  7. hoi Says:

    setujux.
    Udah sekitar 1 tahunan nih gak pernah beli buku/majalah.
    Koran dapat dari langgan kbetulan kos2 nyediain gratis.
    Klo kepaksa pakai buku paling pinjem ke teman.

    Seandainya di print tuh e-book, satu kamar gak akan muat deh.
    Senang yang free2 soalnya, penting donlot dulu.
    Kebaca pa gak, belakangan dipikirin na.
    Hehehehe.

    @hoi
    Dibaca loh e-booknya… jangan cuma disimpen aja… hehehehe

  8. eliza Says:

    boleh bgd tu idenya…

    great 4 our future…apalagi skarang ada yg namanya ebook reader jadi bawaannya gampang kalo maw baca ebook, e-magazine, dll. OKe let’s save our earth!!!

    @eliza
    Ok, yuks… 😀

  9. brengsekerz Says:

    hhoohooo…

    jadi..

    bisa2 percetakan jadi punah donk…?!

    tp memang sih..

    enakan e-publishing..

    hehee….

    sip..sip…

    @brengsekerz
    Ya nggak langsung radikal dong perubahannya… butuh waktu dan sosialisasi untuk itu… dan harus memperhatikan sektor lain juga ketika memutuskan harus berpindah… 🙂 tapi setidaknya jalur baru ini memiliki sisi positif untuk membantu mengatasi pemanasan global yang semakin mengkhawatirkan saja dari hari ke hari 😦

  10. rizka Says:

    assalamualikum….

    wuah,,seru mz baca postinganmu…
    tapi okeh tu e-publishing, E-magazine dan e, e lainnya, yang mnrt aq lebih efisien.
    lah wong jaman skrang smw orng mw nya praktis dan instant.
    jd aq stju2 aj ma e-publising dll…palagi soal Pengaruhnya terhadap lingkungan, sip bngt kan jadi gag prlu gnggu linkungn lg..save our earth!
    tp kasihan jg c ma orang2 yg mw cari duit, kyaknya kerjaan mrka ud kalah ma sgla hal tntng teknologi..
    but, so far so gud lah….^^

    @rizka
    Wa’alaikumsalam yups, karena semakin rusak aja lingkungan maka kita harus kreatif untuk mencari solusi mengurangi kerusakan yang terjadi :), masalah penghapusan pekerjaan… pasti ada cara 🙂 makasih ya dek?

  11. dustinDB Says:

    Setuju bgt dengan metode e-everything yg bakalan (dan bahkan sudah) ngetren ini..
    Alam udah makin g kekontrol ini, efek global warming dah makin krasa aja,,:)

    Tapi,,

    kayanya masih susah ya buat kita, termasuk saya sendiri, untuk lsg migrasi besar2an gitu,,he3 soalnya saya sendiri agaknya prefer ke yg versi cetak gitu ya,,soalnya sm ky buchan ni,,senengnya baca2 di mana aj termasuk di kamar mandi,karena kita g slalu bawa kompi or lappie kn ya pastinya,,hohoho :p

    Lagian juga kalau ditinjau dari segi kesehatan bisa merusak mata juga kali ya kl kbanyakan baca ebook, yg notabene harus mentelengi komputer lama2 (sok tau),,abis kerasa jg sih kl udah lama2 baca ebook , mata lsg capek..apalagi tadi ada pembahasan ttg e-newspaper,,wew bisa2 ntar pake kaca mata, sayang kan yah kesehatan kan mahal harganya.
    Emang sih, skrg udah masuk di era cyber, tapi kdg2 concern aja kl ngliat anak2 kecil yang masih sd udah pake kacamata yg tebel2nya ampun2an..he3

    Oia, satu lagi, bagus bgt yah metode ini asal g “merenggut” lapangan pekerjaan org lain,,hehehe biasanya kan ada loper koran yah, masa ntar ada loper ebook,,kn susah ya :))
    Mengingat jumlah penduduk indonesia yang makin menigkat jumlahnya dan membutuh kan lapangan kerja yang padat karya juga tentunya.

    Tapi intinya, saya setuju bgt dengan metode ini sebagai langkah untuk “mereduksi”, bukan sepenuhnya menggantikan metode analog yg selama ini sering ditemui..

    Last but not least, menurut saya, maybe there r certain things that we’d better keep it traditionally..hehehe

    @dustinDB
    Hmmm, susah juga dikomentarinya secara umum memang benar bahwa teknologi itu susah untuk diterima secara langsung… saya juga setuju kalau mutasi besar-besaran mungkin dapat berpengaruh pada sektor yang lain… tapi pasti ada cara 😀 dan e-everythingnya nggak harus pake notebook loh, saya mengulas e-everythingnya pake Handphone atau PDA dengan biaya yang disediakan penyedia layanan telekomunikasi seluler yang semakin murah saja 😀

  12. ririn Says:

    Assalamualaikum Wr.Wb

    Ehm pa ya comment y….
    Udh diembat ma temen2 dlan ceeee

    sbnrnya aq jg stj maz yg nmnya e book dan lainnya..

    Tp apkh perkembangan dunia nich jg pernah memikirkan kota2 yg gpy jrgn internet ato org2 yg krg mampu y g bs menggunakan fslts itu dg enak kyk kita…

    mereka khan mpe skrg kebanyakan menunggu buku2 bekas yg dijual murah ato hsl pemberian dr orang lain…
    G bs bayangin kalo misla bk g ada sm skli???Pmrnth blm bs spnhnya menyelesaikan mslh ini krn msh byk mslh yg ln yg perlu diselesaikan….

    Jd kalo mw bikin sesuatu jgn mlht keatas tp jg mlht ke bawah

    @ririn
    Wa’alaikumsalam yah… bukan berarti perubahannya radikal gitu, langsung nggak pake kertas sama sekali kan nggak mungkin… tapi pergunakanlah kertas dengan bijaksana… kalau nggak perlu2 banget ya jangan pake kertas 😀

  13. ace Says:

    untuk mengurangi pemanasan global tidak selalu disebabkan oleh penggunaan kertas semata,bila kita bijak menggunakan kertas, reboisasi yang sungguh2 atau penggunaan bahan kimia (freon) yang merusak Ozon, tambang batubara yang merusak ratusan hektar hutan…kenapa kertas yang harus disingkirkan?kertas media yang digunakan dari kita kecil untuk memacu kreatifitas dan saraf motorik anak dan

    sebagai penghidupan untuk para graphic designer karena mereka bisa berkreasi dengan bahan(tekstur),tinta(Hot print,emboshing,offset/screen printing), bentuk(die cutting ato lebih dikenal pon), Lipat dll.

    penghidupan untuk para operator cetak beserta jajarannya tk.lem,jilid buku dll

    dengan kertas terasa lebih dekat,contohnya kartu ucapan yang sekarang bergeser dengan SMS/E-mail.

    boleh saja e-publish dan biarkan printing/kertas berlangsung..indonesia subur lho…kalo mau menanam,menjaga..tx

    @ace
    Saya setuju dengan pernyataan bahwa tidak berarti kita harus paperless sama sekali, sejujurnya saya juga pengoleksi buku2 bermutu… tapi yang saya garis angkat disini adalah realita bahwa beli buku itu menjadi tidak “wajib” beli versi cetaknya, tapi silakan beli e-booknya… karena dengan mengurangi membeli buku versi cetak dan tidak memboroskan penggunaan kertas, kita bisa membantu menghijaukan bumi… dan percayakah Anda bahwa Indonesia adalah negara terbesar kedua setelah Brazil yang memiliki tingkat kerusakan hutan yang tinggi… dan dari kerusakan hutan itu sebagian besar digunakan untuk memproduksi kertas baik dikonsumsi untuk kebutuhan lokal maupun kebutuhan luar negeri… dan penyebab global warming 25-30 persennya disumbangkan oleh kerusakan hutan yang ada di dunia (termasuk Indonesia) datanya dapet dari FAO (Food and Agriculture Organization) 🙂

  14. Nggii Says:

    aq setuju dengan adanya e-publishing, apalagi dari dari segi flexibelitas perubahan pada karya yang dipublish. Contoh ketika terjadi kesalahn cetak/merevisi karya yang dipublish. kan kalo di cetak dlam bentuk buku sudah terlanjur mencetak banyak eksemplar yang salah (kan buang-buang duit terus pembeli juga terlanjur membeli) sedangkan kalo pake e-publishing bisa langsung direvisi terus di upload lagi, si pembeli bisa langsung download versi yang terevisi (bisa saja revisiannya di donlot gratis sebab mereka sudah beli versi sebelumnya) lagi pula penulis n penerbit nggak rugi, soalnya nggak keluar biaya paper, tenaga kerja (percetakkan), cover dan lain-lain.
    Kalo semua majalah, koran dan buku di e kan? alo koran udah mulai menjadi kebiasaan baca via internet, contohnya saja anak2 SI suka banget buka jawapos pas di lab. Kalo majalah menurutq perlu dinikmati, dan isinya banyak jadi lebih enak kalo cetak,nggak pernah ajah baca majalan yang berhalaman2 pake e-magazine pasti mata capek. Apalagi buku!? walaupun ada beberapa teman yang suka baca lewat e-book,, tapi kalo membaca dengan detail rada males bikin mata cepek. Tapi kalo sekedar buku panduan tutorial yang diambil cuma 2-3 halan its okelah

    Keterkaitannya dengan menyelamatkan dunia? kalo berdasarka fakta and opini yang mas beberkan aq setuju kalo bisa mengurangi global warming,,, aq rasa perlu dikenalkan lebih dekat mengenai e dkk itu. Kalau penggunaan kertas bisa diperkecil, kenapa nggak? tapi balik lagi ke kesenangan masing-masing orang….

    ayo galakkan penghijauan,, dimulai dari rumah!!! makasih

    @Nggii
    Kurangi konsumsi kertas, pake seperlunya dan beli buku yang memang dibutuhkan untuk dibaca 🙂

  15. Gatot Wibowo Says:

    Saya menilai “E-publishing” sebenarnya bukan merupakan ancaman tetapi sebuah solusi dan inovasi dalam dunia penerbitan untuk saat ini.

    Jika dilihat dari materi yang anda paparkan terlihat berbagai efektifitas dan efisiensi dalam pengaturan dan pengelolaan seperti biaya gudang, jasa transportasi, dll.
    Tetapi disatu sisi menimbulkan dampak yang lain, misal bagi industri tersebut mau merubah manajemen dan desain dari manual book ke arah e-publishing book, maka terdapat perampingan dalam divisi/unit kerja. Hal-hal seperti inilah yang harus dipelajari lebih dalam bagi industri publishing dengan konsep lama, kecuali Industri baru langsung menerapkan pola e-publishing maka hal tersebut akan tidak menimbulkan permasalahan apa-apa.

    Sedang pohon sebagai konsumsi kertas bagi industri tidak dapat dihindarkan dikarenakan merupakan bahan baku utama industri. Salah satu alternatif adalah industri kertas tersebut harus memiliki lahan sendiri untuk mengelola pohon sebagai bahan baku industrinya. Tanpa harus menghabiskan hutan yang berada di Indonesia ini.

    Tapi semua dikembalikan lagi kepada pemerintah kita dalam pengelolaan hutan tersebut dan kebijakan yang pengelolaan penebangan, penghijauan hutan kita.

    Semoga menjadi renungan kita semua.

    @Gatot Wibowo
    Kalau mau migrasi memang agak susah dan butuh biaya pak, sedangkan hutan untuk industri penerbitan tradisional memang harus ramah lingkungan dalam hal siklus produksi dan menggunakan sumber daya alam yang ada.

  16. setya Says:

    kalo berbicara mengenai indonesia.
    beberapa waktu lalu dinas pendidikan sudah abgus untuk menerapkan e-book buku sekolah, dengna fasilitas ini bisa mempermudah (dan mempermurah) siswa mendapatkan buku.

    tapi sayangnya infrastruktur komunikasi data di ndoensia masih blom merata. koneksi internet cepat hanya bisa dirasakan segelintir orang saja, sehingga akses informasi internet cenderung tidak merata.

    pengenalan terhadap internet sendiri sebagai media informasi sebisa mungkin juga di lakukan sejak dini agar generasi penerus bangsa lebih melek informasi.

    (udah agak OOT)
    bayangin aja, di india, baru2 aja, seorang gadis usia 9 tahun lulus MCP, bagaimana indonesia ????

    tugas besar bagi pemerintah.

    ========================
    nah, sekarang ke msalah lingkungan, efek berkurangnya konsumsi kayu memang nagat terasa karena langkah ini, tetapi kedepannya juga perlu diingat akan makin banyak peralatan elektronik dan gadget yang beredar, dan mayoritas alat elektronik blom sadar lingkungan. meski sudah mulai banyak yang kearah situ.

    so usaha e-publishing juga harus dibarengin ama faktor pendukung yang bisa mengakomodasi kebutuhan dan dampak2 kedepan implementasinya.

  17. De Maulana Says:

    Apapun mediumnya selama dengan cara kemaslahatan bagi manusia saya pikir boleh saja dikembangkan sebagai media informasi dan komunikasi. Bagaimana kita dapat memahami sebagai mahluk yang hidup di bumi, peranan dan kepentingannya selama mengikuti pola yang telah ditetapkan sang pencipta saya pikir silahkan saja demi mencari yang paling manusiawi. Banyak fenomena berkembang yang telah membuka pikiran manusia sejak pertama kali hasil penelitian dapat dipublikasikan manusia, sejak itu pula perubahan pola pikir dan peradaban semakin maju sampai saat ini. Bagaimana kita melanjutkan dan atau menemukan riset-riset baru yang bermanfaat bagi kita semua, dan selama itu pula sebelum nafas berakhir setiap ide dan gagasan dari hati dan kepala manusia akan terus berkembang. Semoga apa yang kita citakan bisa menjadi bagian kecintaan bagi sang Pencipta. Selamat berkarya, Amin.

  18. want2flywell Says:

    menurut aku dengan e-publishing banyak keuntungan yang bisa kita dapetin…beli buku ga pake mahal misalnya…
    dan lagian memang konsumsi pohon buat bikin kertas dah terlalu menyiksa hutan.. itu belum konsumsi pohon buat yang laen2..
    gara2 si hutan kebanyakan ditebangin, sekarang cuaca jadi kacau.. sebentar panas, sebentar hujan (di surabaya sih..)
    nyambung ma global warming gak ya..?

    ya, pokoknya penebangan hutan yang di jaman di mana hutan perlu diselamatkan bukan ide yang bagus sama sekali…
    tapi, sebenernya baca2 di komputer ato pda ato alat elektronik laennya tu bikin capek.. aku masi lebih pilih baca buku beneran.. tapi ga enaknya, buku beneran ga ada “SEARCH” nya..
    dan juga di indonesia hukum ttg dunia maya (setahuku) masi belum bener2 ada, jadi agak sulit menerapkan epublishing tanpa mengalami pembajakan…

    anyway, overall, although i prefer reading the real book, i still choose supporting to save the earth…

  19. Fitrah Meilia Purnama Says:

    Assalamu’alaykum…

    hemph… e-publishing… bisa jadi koran seperti di Harry Potter nggak ya? Kan keren tuh, bisa gerak-gerak. Untuk media cetaknya jangan kertas juga, tapi barang elektronik yang mirip kertas yang bisa dilipat-lipat, beritanya bisa ganti setiap jam/periode tertentu. Jadinya, tetep az paperless tapi tetap bikin masyarakat enjoy seperti megang kertas koran sungguhan. Hahaha…

    Ya, selama itu baik untuk masyarakat dan kehidupan sekitar, okay2 saja. Namun, apakah sudah dipertimbangkan sisi negatif dari itu?
    1. Dampak sosial
    2. Dampak lingkungan dengan semakin banyaknya barang-barang elektronik, salah satunya tentang penghematan listrik dan penggunaan dengan radiasi berlebih
    3. Dampak kesehatan terhadap konsumen
    4. Apakah hal itu dapat dinikmati oleh semua kalangan atau hanya untuk kalangan-kalangan atas saja, di mana perbandingan orang kaya dan miskin di Indonesia sangat terlihat perbedaannya?

    Okay, mungkin itu saja pendapat saya.. semangadh!

  20. MY_701_our_rank_bike Says:

    Lam ikum Wr Wb

    Well, well, well.

    Kl menurut pendapat aq sich…
    e-publishing tu baik banget diterapkan di kota-kota yang sudah berbasiskan teknologi. Akan tetapi, untuk daerah-daerah yang teknologinya masih kurang, saya rasa agak sulit untuk penerapannya. selain itu, sulit juga untuk mencegak adanya pembajakan kalau konsep e learning tu diaplikasikan. Tapi bagaimanapun juga, e-publishing ni kalau bisa ya diterapkan di semua kalangan, walaupun agak sulit gitu.

    Sebenernya sih masih banyak yang mau disampaikan, tapi,,,,, pendapat temen – temen juga udah banyak tuh, jadi, cuma nambahin ajah.

  21. Akhmad Guntar Says:

    Seperti yg disampaikan oleh ibu EdRatna, memang banyak yg masih lebih suka baca buku cetak. Dan spt yg seperti sampean katakan, di setiap tindakan memang ada trade-off. maka yg penting di sini tentu adalah membuat terobosan bukan hanya di bidang teknologi, tapi juga perilaku. Para publisher harusnya bersedia menyediakan layanan cetak khusus atau bahkan lebih baik lagi, bedah buku khusus. Minimal membuat resume buku dalam bentuk audio yg bisa didonlod. dan lebih jauh lagi, mustinya publisher akan jadi lebih serius dalam menangani pelanggannya. ndak seperti skr yg sepertinya habis beli langsung dilepas, ndak di maintain loyalitas dan kepuasannya.

  22. adip Says:

    sebenarnya mas, kalo saya disuruh berpikir tentang masalah ini, cuma ada 1 kata yang bisa aq bilang…
    sulit…(tapi bukan mustahil dilakukan)
    tapi ada beberapa hal yang harus dipenuhi jika negeri kita ini bisa menerapkan segala hal dengan huruf “e” didepannya..
    sama seperti buchan n dusdus..
    kesenangan seseorang dalam membaca buku juga menjadi faktor yang harus dipikirkan..mungkin dusdus suka membaca di kamarmandi, mungkin sambil tidur,(lan ga mungkin laptop dibuat baca sambil tidur..apalagi komputer)hehehe…
    jadi mas, salah satu solusi yang ditawarin ya harus bisa menemukan suatu alat yang sangat canggih…
    (walaupun agak kekanakkan se)…
    bikin alat yang seperti slide proyektor tapi kecil dan bisa memancarkan buku secara 3d dengan bentuk buku tapi bukan berupa buku..(hmmm gimana ya jelasinnya) intinya kayak dipilem2 itu loh mass…
    tapi jadi masalah lagi…jika alat itu benar2 ada, indonesia masih juag belum bisa memakainya loh mas dengan kondisi perekonomian kayak gini yang morat marit (dengan banyak korupsi dimana2…)
    uppss…1 masalah bisa nyebar kemana2 ya…
    jadi perlu banyak permikiran ya mas…^_^
    jadi pusing…

    semangat ya mas……..

  23. Rafi Says:

    Wah, kalau gitu sekarang para pengusaha percetakan yang beralih dari percetakan konvensional ke percetakan e-publishing untuk biaya transportasi, gudang dan penebangan pohon dipindah buat bayarin para ahli sistem keamanan biar produksinya ga mudah dibajak, bener ga ?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: