IGOS – Memberikan Pembelajaran dengan Konsep e-Learning

Tentang IGOS ( Indonesia Go Open Source )

IGOS ( Indonesia Go Open Source ) adalah slogan semangat kebersamaan yang diregulasi oleh Departemen Komunikasi dan Informatika ( Depkominfo ) dan Kementrian Negara Riset dan Teknologi ( KNRT ) yang bertujuan untuk mengkampanyekan penggunaan software legal. Seperti layaknya negara yang sedang berkembang, Indonesia masih jauh penerapan ICT ( information and Communication Technology )-nya dibandingkan negara-negara lain di kawasan Asia. Beberapa isu ICT yang menjadi fokus untuk diperhatikan adalah :

1. Permasalahan kesenjangan digital ( digital divide ).

2. Belum maksimalnya peran dan pemanfaatan ICT ( Information and Communication Technology ).

3. Pembajakan Perangkat Lunak ( sofware ilegal ).

4. Keterbatasan fasilitas dan infrastruktur ICT.

Keempat permasalahan di atas menjadi pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan oleh tim IGOS.

IGOS diprakarsai oleh 5 lembaga pemerintah, yaitu :

Departemen Komunikasi dan Informatika ( Depkominfo )

Kementrian Negara Riset dan Teknologi ( KNRT )

Departemen Pendidikan Nasional ( Depdiknas )

Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia ( Depkumham )

Kementrian Pendayagunaan Aparatur Negara ( Menpan )

Dimulai dengan berkomitmen untuk menggunakan dan mengembangkan perangkat lunak open source untuk instansi-instansi yang ada di pemerintahan, tim IGOS terus berupaya memperluas jaringannya untuk memberikan contoh sekaligus memberikan himbauan kepada masyarakat dan perusahaan yang ada di Indonesia. Himbauan dan contoh tersebut adalah pentingnya penggunaan perangkat lunak open source dan penegasan bahwa pembajakan adalah bentuk kegiatan yang melanggar hukum. Dalam pelaksanaanya, tim IGOS juga menggandeng stakeholder A-B-G ( Academic -  Business – Government ) untuk mengadakan kegiatan yang bertujuan untuk memperluas penggunaan perangkat lunak open source.

Di bawah ini adalah logo dan filosofi dari IGOS yang saya ambil dari situs resminya di sini :

Filosofi:
Logo IGOS digambarkan sebagai tunas daun yang terus bertumbuh dan berkembang sehingga merepresentasikan semangat untuk terus berkembang dan mensosialisasikan penggunaan Free/Open Source Software. Pewarnaan didominasi oleh warna hijau dan oranye. Seperti kita ketahui bahwa hijau seringkali diasosiasikan dengan alam dan secara alamiah mata manusia akan merasa nyaman ketika melihat paduan warna hijau karena warna hijau merupakan spektrum warna dengan rentang terpanjang. Hijau menggambarkan pertumbuhan, kesegaran, dan harapan.

Warna oranye/jingga menggambarkan semangat kebersamaan dan gotong royong dan kreativitas tanpa batas. Seperti kita ketahui bahwa oranye adalah warna yang menggambarkan keaktifan dan penuh semangat, oranye biasanya dipakai untuk menggambarkan keceriaan, merepresentasikan cahaya matahari, antusias, ambisi, keseimbangan, kehangatan, kedermawanan, jiwa yang meluap-luap, dan kreativitas. Dengan kata lain diharapkan nantinya logo ini akan menumbuhkan kreatifitas tanpa batas, mencerdaskan kehidupan bangsa melalui Free/Open Source Software (FOSS), menumbuhkan semangat kebersamaan dan gotong royong melalui Free/Open Source Software (FOSS), dan berbagi pengetahuan melalui Free/Open Source Software (FOSS).

Diharapkan melalui logo ini generasi muda sadar bahwa Free/Open Source Software adalah salah satu solusi untuk menggunakan software legal dengan cara yang hemat sehingga slogan Free/Open Source Software (FOSS) Menuju Kemandirian Bangsa adalah hal yang mungkin.

IGOS berwarna abu-abu tua untuk menambah kesan elegan serta memiliki kekuatan dan penegasan. Sedangkan Indonesia, Go Open Source! berwarna abu-abu muda yang menandakan sebuah slogan atau tagline dari kata IGOS. Pemilihan warna dan penempatan rata kiri disesuaikan sehingga keseluruhan logo terlihat padu dan dapat dipakai pada header website maupun untuk kebutuhan tercetak.

Green is associated with nature. It is
a very soothing color that symbolizes
growth, freshness, and hope.”
(The Principles of Beautiful Web Design by Jason Beaird)

Created by: Andi Sasmita

Perguruan Tinggi Pendukung Pemberdayaan Open Source Software ( POSS Network )

Gambar di atas adalah logo perguruan tinggi di Indonesia yang mendukung IGOS dengan mengusung jargon yang sama, yaitu POSS ( Pemberdayaan Open Source Sofware ). Masing-masing perguruan tinggi tersebut mengadakan kegiatan pelatihan untuk masyarakat, lembaga-lembaga pendidikan, dan institusi-institusi pemerintahan yang berada di sekitar wilayah mereka. Selain mengadakan kegiatan-kegiatan untuk pelatihan, mereka juga menyediakan fasilitas di website khusus ( bisa anda klik di masing-masing gambar ) untuk tukar pendapat masalah software open source, pembelajaran secara Online melalui forum dan menyediakan file-file yang bisa di-download ( Bentuk e-Learning asynchronous )

Perguruan tinggi tersebut adalah :

1. Universitas Indonesia

2. Politeknik Manufaktur Astra

3. Universitas Al Azhar Indonesia

4. Institut Teknologi Sepuluh Nopember

5. Politeknik Batam

6. Politeknik Informatika – Del

7. Universitas Udayana

8. President University

9. Institut Pertanian Bogor

10. Universitas Airlangga

11. Universitas Gadjah Mada

12 Institut Teknologi Bandung

13. Universitas Tarumanegara

14. Universitas Pendidikan Indonesia

15. Universitas Hasanuddin

16. Universitas Tanjungpura

Komunitas Pendukung Free Open Source Software ( FOSS Community )

Gambar di atas adalah logo komunitas di Indonesia yang terdaftar sebagai komunitas yang mendukung IGOS melalui jargon yang sama, yaitu FOSS ( Free Open Source Software ). Komunitas ini adalah komunitas pengembang software open source ( linux ). Mereka aktif melakukan diskusi dan memberikan bantuan kepada para member dan masyarakat umum, terutama di bidang perangkat lunak yang kompatibel dengan perangkat lunak yang menjadi ikon mereka. Komunitas ini sering mengadakan seminar-seminar dan pelatihan gratis yang bertujuan memperkenalkan perangkat lunak gratis dan legal. Teman-teman bisa klik gambar masing-masing logo untuk terhubung ke situs mereka.

Komunitas tersebut adalah :

1. YPLI ( Yayasan Penggerak Linux Indonesia )

2. JUG ( Java User Group ) Indonesia

3. KLUWEK ( Kelompok Linux Cewek Indonesia )

4. Linux Blankon

5. Linux Ubuntu Indonesia

6. Open SUSE ID

7. Yayasan Airputih

8. Asosiasi Warnet Linux dan Open Source Indonesia

9. ZENWALK Indonesia

Perusahaan Pendukung IGOS

Gambar di atas adalah logo perusahaan yang terdaftar sebagai pendukung IGOS. Perusahaan tersebut mendukung IGOS dengan berbagai macam cara, yaitu dengan membantu memberikan informasi, jaringan interkoneksi, memberikan software khusus, membantu mendanai kegiatan, dsb.

Perusahaan tersebut adalah :

1. redhat Asia-Pacific

2. A Note Notebook

3. Sun Microsystems

4. ACER Indonesia

5. ORACLE

6. Indosat M2

7. Bamboomedia

8. Qwords

9. Excelcomindo

10. Telkom Indonesia

Media Pendukung IGOS

Gambar di atas adalah logo media yang terdaftar sebagai pendukung IGOS, media yang bersifat profit ini memberikan bantuan dengan melakukan publikasi untuk kegiatan IGOS, memberikan informasi-informasi seputar perangkat lunak open source, dan memberikan bantuan dana untuk kegiatan yang dilakukan oleh IGOS.

Media tersebut adalah :

1. Biskom

2. INFO LINUX

3. detikinet.com

Semangat IGOS Adalah Semangat e-Learning dan Open Source

Dari keempat permasalahan yang menjadi fokus utama oleh tim IGOS untuk segera diselesaikan, dapat dilihat bahwa pemerintah menyadari bahwa segala hal yang berhubungan dengan ICT ( Information and Communication Technology ) sangat penting untuk dibenahi. Walaupun fokus yang paling diutamakan adalah mengkampanyekan penggunaan perangkat lunak open source dan memberantas penggandaan perangkat lunak secara tidak sah ( ilegal ), tetapi dalam pelaksanaannya, tim IGOS juga mengimbangi dengan memberikan pelatihan-pelatihan dan seminar-seminar yang berhubungan dengan teknologi open source. Bentuk dari pelatihan dan seminar tersebut bermacam-macam, ada yang bersifat langsung dan ada yang memanfaatkan teknologi ICT sebagai media untuk melaksanakannya. Contoh penggunaan ICT sebagai media adalah :

1. Seminar yang menggunakan teleconference.

2. Pelatihan dalam bentuk file yang dapat didownload.

3. Forum yang disediakan untuk saling berbagi pengetahuan tentang teknologi open source.

4. Repository perangkat lunak yang dapat didownload dan selalu update.

Apa kesimpulan yang bisa kita ambil dari fakta-fakta tersebut?

Kesimpulan yang dapat diambil adalah pemerintah berusaha memberikan pembelajaran e-Learning secara implisit kepada masyarakat, kenapa saya bisa mengatakan demikian? karena sebagian besar kegiatan dan pelatihan yang dilakukan oleh tim IGOS mengarah kepada pembelajaran melalui konsep e-Learning, baik itu e-Learning yang bersifat asynchronous ( download file, membagikan CD saat seminar, dsb) maupun e-Learning yang bersifat synchronous ( seminar dengan menggunakan fasilitas teleconference ).

Disadari atau tidak pemerintah berusaha membiasakan masyarakat Indonesia menggunakan ICT dalam semangat IGOS ini, kegiatan-kegiatan yang dilakukan tim IGOS ini sangat menunjang usulan saya di sini mengenai permasalahan pelatihan SDM untuk penerapan e-Learning dan pendekatan yang boleh dikatakan tidak spontan dan tidak radikal. Walaupun dalam usulan saya tersebut saya memberikan contoh kasus mahasiswa tetapi pada prinsipnya pendekatan yang dilakukan oleh pemerintah ini memberikan pengaruh yang cukup luas ( elemennya bukan hanya dalam bidang pendidikan saja ).

Untuk itu, marilah kita berpikir positif kepada semangat IGOS ini dan berilah dukungan dalam bentuk apapun pada pelaksanaannya. Karena dengan berpikir positif maka kita dapat melihat tujuan yang sangat baik dan sangat mulia, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa dalam bidang ICT dan dengan dukungan yang kita berikan maka kita telah memberikan sesuatu yang sangat berharga untuk membantu mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia ( khususnya dibidang ICT ).

Semangat terus tim IGOS! Majulah terus Pendidikan Indonesia!

Parvian

 

About these ads

34 Responses to “IGOS – Memberikan Pembelajaran dengan Konsep e-Learning”

  1. dani Says:

    komunitas fedora-id, slackware-id jg dah ada.. :)
    igos skrg berbasis distro apa ya..

  2. parvian Says:

    @Dani : Terakhir kali saya diberi informasi oleh pak Kemal Prihatman ( Asisten Deputi Pengembangan dan Pemanfaatan Teknologi Informasi KNRT ) menggunakan distro Debian, oh iya? fedora-id? kalau slackware mah emang udah turut serta… coba nanti saya konfirmasikan lebih lanjut :)

  3. wong ganteng Says:

    ehmm saya juga pecinta open source, saya sangat mendukung IGOS
    hehehe

    menurut ane yang bodoh ini, kayaknya gerakan2 opensource itu masih sebatas kalangan akademisi, komunitas dan developer…

    dan orang2 di luar itu sulit sekali tersentuh dan terjatuh di pelukan open source.. hohohoho

    melihat itu sepertinya kalo memang mau memperluas penggunaan open source lebih dari tempat “itu2″ saja perlu diadakan “pemaksaan” pada produk ato regulasi hahahahahahaha,

    misal Indonesia membuat komputer rakitan high – end yang murah tapi bundle linux hahahahahaha

    ato ketentuan pemerintah misalnya yang mengharuskan semua dokument berbasis opendocument format bukan openXML format(buatan ehmm.. tau lah)

    teteplah intine kekuasaan memegang kekuasaan.. hahahahaha
    *just ide dan omong kosong belaka

  4. dije kaulitz Says:

    IGOS adalah masa depan Indonesia… ^_^

    sangat memajukan bangsa…

    semoga semua pihak dapat bekerjasama dengan baik dan menjadikan IGOS slogan yang menyuarakan pengembangan IT di indonesia,,hwehehhehehe….

    ganbatte ne~

  5. Ulpe Says:

    Hmm..setuju dengan komen mas Wong Ganteng (hhkkk,,,narsisnya orang ini,,, :p). Gerakan” opensource seharusanya lebih dilebarkan lagi jangkauannya. Biar semua orang sadar kalo opensource tu keren. Misalkan aja, sentuh perusahaan” rekaman ato perfilm-an. kan masi langka tu…

    Terus, pemerintah juga harus memberikan contoh. misal, software” di goverment dept diganti sama yang opensource. Kan Orang” diatas yang seharusnya memberi contoh sama kita” yang dibawah ini…. ^^

  6. PoLar'z Says:

    IGOS……..

    Mungkin di awal” terdengar sangat asing,,,,,,,

    namun jika semua elemen mau dan berkeinginan untuk mengembangkan potensi yang satu ini….

    wah bisa dibayangkan betapa nikmatnya software ini……..wkwkwkwkwk………

    nda bayar,,,,,,,,

    bisa diutak-atik………

    pokoknya kita banget deh,,,,,,,,,,,

    wkwkwkwkwkk:D

    semangadddddd IGOS…………

  7. parvian Says:

    @Wong Ganteng : Ada-ada saja idenya pak :) tapi memang harus ada peraturan yang jelas ya? oh iya pak, sebenarnya dari korporasi juga diajak loh… nggak cuma kalangan akademisi saja, walaupun mungkin nggak sebanyak akademisi ya?
    @dije kaulitz : Yups… sekaligus mengurangi tingkat pembajakan di Indonesia bukan? :)
    @Ulpe : Udah kok dek, waktu ketemu pak Kemal Prihatman di acara seminar POSS aku sempet tanya ke beliau, dan beliau menjawab sebagian besar departemen di pemerintahan ( terutama 5 departemen yang aku sebutin di tulisan itu ) sudah menggunakan perangkat lunak open source.
    @PoLar’z : Dukung IGOS! jadilah anggota POSS-ITS :)

  8. Asun Says:

    “linux??open source??apaan tuh??kykx susah banget..”

    gitu tuh pikiranq sebelum kuliah SISOP..emang aq yg gaptek atau begitu pikiran kebanyakan pengguna komputer..masih banyak yg perlu dilakukan untuk menyebarkan “ilmu” open source kepada masyarakat..but it’s worthy to do,daripada bajak OS lain,ckckckc..

    well,i just can say,keep the good job..

    Go Open Source Go e-Learning

    sukses buat mas andre

  9. Nggii Says:

    SETUJU banget dengan IGOS

    Mungkin untuk software aplikasi udah banyak ya yang pake OpenSource tapi untuk berpindah dari OS milik u know who ke OpenSource kyaknya juarang banget…

    Tapi kalau terus digalakkan siapa tahu juga bakal terbiasa and banyak yang pake OpenSource,,, Tapi ya… bukannya software OpenSource kebanyakan tuh fiturnya kurang lengkap,canggih,mudah digunakan daripada yang mbayar y??

    tApI point + banget buat Software OpenSource tuh qta sebagai pengguna Software tidak perlu bergelimang dosa T.T kan halah bo…

    enak kali ya… kalo all software grastis tapi ya apa industri software ?? banyak yang tutup lak’ an menurutQ terserah seh mau bisain diri pakai OpenSource atau nggak,,, yang pasti neh perusahaan pembuat software ya nggak mau kalah donk ma yang opensource,,, ya kembali ke USER maunya apa???

    Thx >.</

  10. ka_liena Says:

    hhmmm….emang perlu kerja keras tuh buat mensukseskan program ini,
    apalagi dalam hal memperkenalkan software2 open source pada kalangan luas. seperti yang qta ketahui, masyarakat bener2 sangat awam terhadap teknologi yang satu ini, sehingga diperlukan pemahaman yang ekstra agar mereka mau beralih ke teknologi ini.
    udah ya mas…q kehabisan kta2 nie :-D
    sukses aja wez buat program ini…

  11. phietzaa Says:

    Assalamu’alaikum wr. wb

    oink oink…IGOS??? Apaan itu??? (bleh…pdhl wes dijelasin di atas..hehe :D ) Yah…memang tidak semua orang tau apa itu IGOS, apalagi orang kampung kaya’ aq (nderrr…lagi2…)…ada yg taunya i-Gos ==infotainment gossip …hehe,termasuk saia. (pendahuluan dulu om ;) )

    Okeh…jadi, di luar kendala yang telah disebutkan oleh commentator2 di atas, saia mendukung smangadh IGOS ini. Keren! Bener juga tuh, bisa mengurangi dosa di muka bumi..he…tapi kalo kembali membahas masalah, ya tetep az ada atau bahkan banyak faktor penghambatnya. Dari masalah sosial juga sampe ke masalah2 yg laen (jadinya merembet deh). Iya. Memang bisa diakui bahwa pemerintah tidak sampai e-book saja untuk terus berusaha mengembangkan konsumsi IT di Indonesia. Namun, dari tulisan pertama sampai yang ke-3 ini, permasalahan yang paling sering muncul adalah masalah penggunanya (muter2 ae :D ). Dan untuk itu, saia juga mendukung ide gila tapi brilian dari “Wong ganteng” (oink oink…sapa ne???), yaitu tentang perlu diadakannya pemaksaan. Karena ada filosofi yg mengatakan…awalnya kita membentuk latihan, setelah itu latihanlah yang akan membentuk kita (seingetQuwh c gitu). Nah, smua perubahan memang perlu adanya sedikit paksaan sehingga orang yang berubah tersebut tetap memiliki arahan. Sama halnya dengan usaha pengembangan e-learning ini. Itu juga bisa dilakukan dengan menggunakan ide “Ulpe”, yaitu dengan menggaet perusahaan-perusahaan rekaman ato perfilm-an.

    Namun, (mulai namun wes :D ) untuk membawa para konsumen it yg sudah terlanjur menggunakan software legal (yg kemudian jadi ilegal…mbajak maksude :D ) itu menjadi satu kendala lagi. Dari commentnya “Nggi” itu, bener juga c. Tergantung user maunya seperti apa. Memang IGOS ini merupakan salah satu cara untuk menyukseskan penerapan e-learning, khususnya di Indonesia, tapi bagi yang punya duit kan boleh2 az g pake software yang open source. Tapi IGOS ini tetep diarahkan ke Indonesia pada umumnya, tetapi juga pada konsumen IT pada khususnya yg memiliki kekhususan tertentu (halah…maksudnya ap iki?!).

    Over all, setuju sm IGOS! Smangadh! saia juga mau klo diajari ;)

    *maap om..agak ngawur nulisnya…ntr klo ad ide lagi tak tulis lage d :D

    Wassalamu’alaikum

  12. m3 Says:

    maju terus mas….
    pantang mundur….
    semangat mas………

  13. parvian Says:

    @Asun : ikutlah jadi anggota POSS-ITS, terima kasih asun
    @Nggii : memang sampai sejauh ini, software open source belum bisa menandingi software licence. Tapi ada yang menarik yang harus kita perhatikan, sebenarnya apakah kita perlu semua fitur-fitur yang ada di software licence tersebut? :) karena untuk kebutuhan dasar saja sebenarnya software open source sudah banyak yang mengembangkan :) bagaimana? menggunakan sesuai kebutuhan bukankah hal yang bijaksana? :)
    @Ka_liena : waduh, sampe kehabisan kata-kata :) deja vu ma matkul SISOP kah? :)
    @Phietzaa : Yuk dukung IGOS :)
    @M3 : no limit… :) terima kasih ya :)

  14. Nggii Says:

    HMM.. okelah kalo emang gitu kasusnya
    tapi aq dw yo g mau sok tau,,, bisa saja kita belum ngerasain kalo software yg berlisensi tuh emang dibutuhin banget apalagi di perusahaan-perusahaan,,, aq ya g tau juga ngapain mereka bayar ber Jut-jut and ber M-m kalu g valueable khan??

    IGOS aQ setuju banget lah apalagi kalangan mahasiswa kebawah or perusahaan yg g gede or instutisi laen lah yang emang susuh buat beli yang berlisensi…

    Tapi bayangin deh kalo semua opensource ??? mau tah bikin software susah-susah eh… gratis pula.. (sebagai programer ya g mau seh) tapi ada juga yg g ambil pusing n seneng bikin software trus di open kan ke masnyarakat ya sah-sah ae toh…

    yang penting sopo seng g gelem gratisan oe..??

  15. Melz Says:

    Ya..Ya..Ya..
    Setuju banget neh sama IGOS
    Biar Indonesia nggak lagi disebut sebagai negara pembajak mulu
    Biar Indonesia nggak lagi dikatai ketinggalan jaman
    Biar Indonesia makin kaya..(weks..kan software2nya pada gratis tuh…ha3)
    Ya udah, pokoknya MARI KITA SUKSESKAN IGOS!!!

  16. DinaLd Says:

    wahhh open source yha??
    bagus noh! aku dukung mas!!
    tapi kebanyakan saat ini orang2 di Indonesia sudah kadung nyaman dngan yang berbayar ato yang bajakan! padahal iku melanggar hukummm!! hukum INTERNATIONAL malah!

    huahuahua

    yaaahhhhh… saya harap open source lebih digalakkan.. kalo bisa orang2 orang2 yang baru beli komputer itu di installin OS Linux aja biar terbiasa! hehehe ada unsur pemaksaan getho!

    yep saya dukung penuhhh!!
    HIDUP GRATISAN!
    STOP PEMBAJAKAN!
    wkwkwkwkkekekekek

  17. DinaLd Says:

    btw caranya jadi anggotanya POSS ITS gmana yahHH??? hwehhe

  18. IU_v3 Says:

    SETUJU BANGET ama IGOS…

    IGOS menurut yang tau pasti suka banget, tapi klo yang gak tau, pasti bilangnya ribet dan lebih milih software2 bajakan…

    lebih bagusnya kalo ada pengenalan IGOS dan keuntungan IGOS keberbagai kalangan, contohnya aja guru2 SD dan guru SMP..tu kan awalnya murid mengetahui tentang komputer…

    agar generasi Indonesia lebih berkembang tanpa melalui pembajakan

  19. parvian Says:

    @Nggi : Tidak semua program di open source kan toh ya… cuma program-program standard saja, kalau misalnya program itu dibuat spesifik untuk perusahaan tertentu ( software house ) ya harus bayar :) ngerti kan maksudnya? artinya, programer itu bukan berarti harus memberikan semuanya gratis, bagaimana bu anggi?
    @Melz : HeEm… ok :)
    @DinaLd : Kalau bukan dimulai dari kita, terus siapa lagi yang memulai? :) daftar POSS? coba hubungi mas ucup
    @IU_v3 : Nah itu, makanya ada pelatihan dan seminar-seminar kan? sekalian sosialisai software open source gitu. yah… pembajakan memang tindakan kriminal :)

  20. Hatta Bagus Himawan Says:

    okay setuju…

    tp dibutuhkan dana yg g sedikit buat sosialisasi open source…

    contoh kasus :

    di afsel sana (tempat asal ubuntu)… diceritakan ada seorang yang kaya raya yang ingin ngeliat anak2 afsel pinter dalam hal teknologi… so orang tersebut g tanggung2 ngeluarin dana buat ambisinya tersebut… dia ngeluarin dana klo q g salah inget tuh sekitar 1 juta dollar utk buat ubuntu n nyebarin plus sosialisasix… n pertanyaanx di indonesia apakah ada yg seperti itu??? ehm… mari kita tunggu…

  21. parvian Says:

    @Hatta Bagus Himawan : Yah… di IGOS kan banyak pendukungnya :) semoga semakin bertambah… amin

  22. ubed Says:

    Go open source !!!!

  23. Yusuf Afandi Says:

    Open Source ya….
    Permasalahan yang harus diperhatikan menurut saya adalah KONSISTENSI…

    maap aj..
    disaat penduduk kita digalakkan dengan keinginan untuk melakukan sosialisasi open source melalui IGOS, banyak yang mendukung…mulai dari pihak akademisi, komunitas, Pecinta Open Source dan Linux, serta lainnya…Tetapi, apa yang terjadi pada pemerintah yang melakukan pembelian lisensi microsoft sebesar $180ribu…bayangkan uang sebesar itu, kita bisa menjalankan workshop2 pengenalan aplikasi open source, Linux dll…selain buat mengurangi biaya pemerintah untuk pembelian lisensi tersebut, dapat juga digunakan untuk mencerdaskan pendidikan anak2 agar melek IT..dan segitu besarnya hanya habis digunakan untuk membeli Sistem Operasi, dan yang paling mahal adalah OFFICE…bayangkan aj untuk membeli 1 OFFICE berlisensi bisa kita dapatkan seharga 1,5jt yang paling murah…sedangkan OS dengan Windows XP aj 800rban…Total seluruhnya, jadi 2,3jt…blom lagi komputernya…misalkan saja harga komputer 3juta…Total PC+OS+Office(tok) uda sampe 5,3juta…beeeuhh….

    Linux = $0 + Open Office yang notabene OFFICE yang paling mirip dengan Micr.Office juga $0…so, apakah pemerintah sudah mempertimbangkan hal itu??
    uang $180rb tersebut hanya untuk lisensi dan memudahkan kita saja….untuk aspek pembelajaran IT dan melek IT nya gmn ???

    yah..mungkin ini cman terkaan aj knapa pemerintah memilih windows…
    gini critanya, temen saya pernah mengeluh tentang linux. dilaptopnya untuk driver wifi nya koq g kedetect ya?? jadinya saya g bisa wifian pake linux ne.. klo XP mah, langsung aj uda bisa masuk internet, gampang…driver yang uda didownload juga g dukung buat distro yang saya pake…ya uda d…mutung…windows trus aj….(duh..duh)

    nah. mungkin yang kayak gini jdi pertimbangan pemerintah milih windows kali ya?! atau karena hubungan baik dengan microsoft??? g tau juga saya…hehe….

    cman opini dan sebagian fakta dari saya…

    hidup Open Source…dan tetap hargai karya orang lain…

  24. Yusuf Afandi Says:

    eh sory..mungkin konsistensi kurang tepat ya???, hmm….KOMITMEN pemerintah lebih cocok sepertinya dalam menentukan Menggalakkan IGOS atau Microsoft….hehe

  25. parvian Says:

    @Ubed : Ini neh semangat Open Source namanya :)
    @Yusuf Afandi : Yah, memang software open source masih belum bisa menyaingi software licence… tapi setidaknya kita tidak berdosa memakai software ilegal kan? :) kalau pendapat saya, sah-sah saja kalau pemerintah pakai software licence tapi… harus sesuai dengan kebutuhan dong… percuma kita bayar mahal-mahal tapi cuma dipake buat ngetik di word atau browsing internet pake browser IE misalnya… rugi banget kan? :) anyway… saya setuju, kita harus menghargai karya orang lain… stop pembajakan, hidup IGOS, hidup e-learning, hidup open source! :)

  26. aghita Says:

    assalamu’alaikum warohmatullah wabarokatuh,,

    bismillah,,

    Indonesia Go Open Source,,sebuah slogan yang sarat akan semangat bila diselami maknanya,hehe.ingat Open Source saya jadi ingat linux kalo sudah ingat linux saya pasti ingat nama ‘gembel’ jadilah saya teringat akan mas Kiki yang sepertinya fans berat dan supporter
    yang kecintaannya kepada Open Source mengalahkan kecintaan hooligan kepada tim sepakbolanya
    .well,intermezo cukup sampai disini..

    IGOS yang kalo ndak salah terbentuk th 2006an(bener nda ya?)insyaAllah adalah jalan yang mulai
    lurus untuk menanggulangi pembajakan software di Indonesia.semoga adanya IGOS ini bukan hanya
    karena tuntutan PBB yang kala itu mengharuskan adanya perlindungan hak cipta pada
    software.memang sejak diberlakukan HAKI hendaknya pihak pemerintah adalah perintis penggunaan
    open source ini baik untuk OS maupun penggunaan freesoftware karena diharapkan akan mengundang
    ketertarikan masyarakat Indonesia akan Open Source sendiri.memang gema IGOS ini terdengar
    gaungnya pada saat awal dibentuk tetapi lambat laun surut dan tak terdengar lagi.tetapi semoga
    semangat open source ini tetap membara di hati para pengguna IT di Indonesia,toh pemerintah
    juga sudah meneladani penggunaanya pada beberapa departemen.tetapi walaupun sudah 2 tahun
    bergema,masih banyak juga masyarakat yang menggunakan software ilegal.itu yang jadi pertanyaan..
    tapi kalo dipikir ulang memang tidak mudah merubah kebiasaan pak,,ya kembali pada prinsip comment saya yang pertama tentang Virtual Class bahwa merubah kecenderungan suatu pattern itu tidak mudah.ditambah lagi asumsi masyarakat yang masih kesulitan dalam menggunakan teknologi open source ini.”Linux itu..susah,tidak user-friendly,software open source yang ada pun tidak selengkap propietary software yang compatible dengan OS Windows”,,mungkin itu yang tertanam di benak mayoritas pengguna IT yang belum tertarik dengan open source hanya karena “lack of knowledge” saja.sayang sekali bukan?kalo ditelusuri ulang mengapa bisa begitu,,saya ambil contoh sederhananya..pengenalan komputer tingkat dasar pada siswa Indonesia masih menggunakan produk Microsoft,sehingga masyarakat melakukan perkenalan awal adalah pada produk Microsoft yang notabene berkode tertutup dimana untuk mendapatkan lisensinya kita harus membayar..-_-”
    karena itu lah mengapa masyarakat Indonesia lebih prefer menggunakan produk Bill Gates itu,bagaimana tidak sejak pandangan pertama pada teknologi komputer mereka sudah diperkenalkan dengan Microsoft dan bukan Linux.tetapi sekarang bukan saatnya untuk menyalahkan ini dan itu,,sana dan sini,,apalagi menyalahkan pemerintah yang belum konsisten dan komitmen menggunakan produk Open Source.karena seperti halnya kita,pemerintahan pun dikendalikan oleh manusia yang juga butuh waktu dan proses untuk belajar terhadap hal baru.
    alangkah bijaknya kalo kita sebagai orang2 akademisi apalagi mahasiswa turut mendukung dan mensukseskan program pemerintah tersebut,bukankah mahasiswa itu adalah agent of change?jadi bilapun ada program pemerintah seperti IGOS yang mempunyai masa depan bagus untuk kemajuan bangsa kita,marilah kita ikut mensosialisasikannya kepada masyarakat Indonesia dan alhamdulillah sudah dilakukan oleh Jurusan kita SI seperti beberapa kali mengadakan event mulai dari workshop,seminar,dll mengenai teknologi Open Source.tetapi mungkin event-event di atas dirasa masih terlalu eksklusif karena kurang menjangkau kalangan konsumen IT level beginner.bagaimana dengan sosialisasi Open Source pada siswa sekolah,misal Open Source Goes To School?(atau mungkin sudah ada program seperti ini ya?)kan pengenalan komputer dimulai sejak siswa duduk di bangku SD,,jadi kalo pengenalan teknologi open source ini dimulai sejak dini maka tidak ada lagi alasan “tidak biasa”.dan,,alangkah indah nya kalo pemerintah juga mendukung program ini,dimana untuk pengenalan komputer sejak sekolah dasar menggunakan teknologi open source mulai digencarkan sehingga nantinya produk Microsoft bukan menjadi option utama lagi bagi kosumen IT di Indonesia.dan mungkin keuntungannya tidak hanya disitu saja,karena insyaAllah bila Open Source telah diterima oleh seluruh strata pengguna IT maka kriminalitas yang disebabkan karena ‘piracy’ pun menurun drastis.tetapi saya pun sadar pastinya juga butuh persiapan disana sini untuk mensukseskan IGOS mulai dari level beginner.misalnya..sosialisasi besar2an kepada sekolah2,training untuk pengajar bila dibutuhkan,dan masalah teknis lainnya yang mungkin pak andre lebih mengerti.mungkin butuh biaya yang tidak sedikit juga ya pak untuk mensukseskannya,tapi akan jauh lebih bermanfaat digunakan untuk mendanai program itu daripada untuk membayar lisensi Microsoft..baiklah,,bismillah,,semoga IGOS akan tetap akan berkobar semangatnya untuk mensukseskan juga pendidikan di Indonesia.keep on figthing,Allahu Akbar..:)
    afwan pak bila saran saya kurang berkenan karena jujur saja saya blm ,Allahu wa Rasuluhu a’lam bishshowab..

    wassalamu’alaikum warohmatullah wabarokatuh

  27. aghita Says:

    wah,,terpotong..-_-” kalimat baris kedua dari bawah :
    afwan pak bila saran saya kurang berkenan karena jujur saja pengetahuan saya tentang open source masih sangat kurang..Allahu wa Rasuluhu a’lam bishshowab..

  28. sanny Says:

    saya pertama kali tahu tentang IGOS waktu kuliah Teknologi Open Source. Ternyata pemerintah peduli juga untuk urusan yg begini (urusan IT dan pembajakan).

    Problem dari open source untuk korporasi sebenarnya sangat serius, yaitu masalah dukungan teknis ketika trouble terjadi. aplikasi open-source ga punya tim teknis, ga punya tim yang siap sedia 24jam menangani masalah. Apalagi kalo sudah ngomongin trouble serius atau data penting yang rusak/hilang. untuk kasus begini… aplikasi berbayar yang didukung tim teknis masih lebih bisa dihandalkan.

    tapi kalo untuk dipake perorangan/home user, yang ga menyangkut data penting ato proses berisiko, open-source bisa lah dijadikan pilihan utama. kalangan akademisi merupakan sekumpulan orang yang cocok banget dijadikan motor penggerak buat sosialisasi open-source ke masyarakat umum.

    warm regards,
    Rosanny Sihombing

  29. parvian Says:

    @Aghita : Walaikumsalam Wr. Wb.
    wah-wah… nih melengkapi tulisan saya :p yups benar sekali bu, sebenarnya nggak hanya indonesia, beberapa negara di Asia juga mendeklarasikan Go Open Source ini ( terutama negara dengan tingkat pembajakan yang cukup tinggi ) seperti yang saya sampaikan ke Yusuf Afandi, bahwa memang software open source itu belum bisa menyaingi software licence dalam berbagai hal ( bahkan mungkin akan susah mengejarnya ) dan benar ( lagi ) kalau memang software open source ( terutama Operating System ) agak susah pengoperasiannya dibandingakan software licence ( misal windows ) butuh penggerak untuk merubah paradigma yang anda sampaikan :) contoh konkret ya seperti yang disebutkan itu, pelatihan-pelatihan dan seminar-seminar memang harus sering dilakukan… Nah, tugas kita sebagai mahasiswa ini yang harus melaksanakannya… terima kasih masukannya ghit :)
    @Sanny : Yups, kalau bukan kita yang memulai, siapa lagi? :) Betul sekali, penggunaan software sesuai kebutuhan memang tindakan yang bijaksana :)

  30. elouphrog Says:

    emmmm…

    topiknya,,berat..

    tapi oke juga kok dengan semangat open source nya ituw…
    itung-itung…itu bisa ngedevelop negara kita menjdi lebih maju dalam hal IT..

    kapan lagi kita bisa nggunain software yang gag bajakan..
    masak pake bajakan terus..kan ya gimana gitu..malu-maluin aja..
    negara kita kan udah banyak mendapat gelar-gelar yang jelek..huhuhu..

    go open source it’s something bright idea for IT’s life in our country..
    yuhuwww..moga2 negara kita tambah oks ajah…

  31. Nury Says:

    Kayaknya bagus tuh palagi untuk mengurangi namnya pembajakan.Mang baru denger kali ini sih, tapi apapun itu yang bersifat positif dan mendukung kecerdasan bangsa..cayo kita dukung.

  32. kecapius Says:

    pernyataan sederhana..

    SUDAHKAH ANDA MEMULAI HIDUP ANDA DENGAN OPEN SOURCE ?

    DO WE JUST TALK ? OR DO NOTHING ?

  33. Thanks a lot for you! I win this competition… « Parvian’s Weblog Says:

    [...] IGOS – Memberikan Pembelajaran dengan Konsep e-Learning [...]

  34. ade Says:

    Contoh elearning untuk PT:
    http://elearning.gunadarma.ac.id/
    Untuk bahan ajar:
    http://ocw.gunadarma.ac.id/
    Untuk paper:
    http://repository.gunadarma.ac.id/
    Contoh Virtual Class:
    http://v-class.gunadarma.ac.id

    Semoga bermanfaat


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: